Cerpen Janji Gemintang dan Mentari
Janji
Gemintang dan Mentari
Oleh : Wie Tika
Sore
ini aku hanya berbaring di ranjangku, mendengar musik dan membiarkan pikiran gabut tak tentu arah. Aku menghapus
derai air mata dari pelupuk mataku yang beberapa kali jatuh menimpa keyboard
laptopku. Kau tahu aku berhasil membuat 20 status galau di insta story ku dan
menulis sumpah serapah sepanjang 2 meter di blogku.
Segala
sesuatu terjadi begitu tak terduga dan menghancurkan kebahagiaanku, meruntuhkan
segala asaku. Aku tak bisa mengikuti turnamen basket besok.besok!
“
Kei!” Bunda mengetuk pintu kamar dengan kecemasan seorang ibu. Meski enggan,
aku tak tega membiarkan wanita yang
kusayang itu khawatir berkepanjangan, maka akupun bangkit berpaling
sebentar dari laptopku.
Gubrak!
Ah
Kaki sialan, kau tahu rasanya bokong terjun bebas ke lantai seperti nangka matang
jatuh dari pohon. Bundaku berlari masuk dan berusaha membantuku duduk di kursi
beroda ini
.“Ya
Allah Kei, kamu hati-hati, ada yang sakit sayang?” Bunda memelukku erat. Aku
melepaskan pelukan bunda “ Kei gak papa bunda…lagipula apa bedanya toh kaki Kei
lumpuh yang bila jatuh tidak akan merasakan apa-apa”
Lagi,
aku membuat bunda menangis. “Maafin aku bunda” dihadapannya aku selalu berusaha
tegar dan kuat dan walau sebenarnya aku sangat rapuh, menangis, dan mengucap
aneka sumpah serapah selain pada bunda. Aku tak kuat melihat kesedihannya.
Ah
kecelakaan motor itu penyebabnya. Seharusnya aku naik ojek online saja waktu
itu disaat kurang tidur menyelesaikan banyak tugas semalamam. Aku tak melihat
ada mobil yang tiba-tiba menghantamku dari depan. Semua berputar, semua terasa
begitu cepat dan ketika sadarkan diri aku sudah berada di kamar rumah sakit.
Teman-teman
semua datang. Teman sekolah, teman kelas dan seluruh team basketku datang
dengan aneka buah dan ucapan semoga lekas sembuh yang bagiku sebuah
hinaan.huft.
Semua
terasa runtuh, hancur, luluh lantak kala dokter memvonisku lumpuh.ya lumpuh
untuk kedua kaki . Aku tak bisa lagi bermain basket, tak bisa lagi berlarian
mendrible bola. Aku sudah tidak memiliki kehidupan lagi saat ini.
Kembali
ke sekolah bagiku seperti sebuah pertarungan hati. Betapa tak kuasa melihat
pandangan kasihan teman-teman, guru-guru, penjaga sekolah. Tidak ada lagi Keira
bintang basket kelas XI IPS 3.
Teman-teman
menyambutku dengan suka cita, ada yang menawarkan mendorong kursi rodaku,
membawakan tasku. Aku cukup bersyukur kelasku di lantai 1. Bagaimana mungkin
aku mampu menaiki anak tangga bila harus berada di kelas diatas.
Siang
ini, di sudut lapangan aku melihat team
basketku berlatih. Tak terasa air mata menetes. Betapa kuingin berlari mengejar
bola itu. Aku terkenal sebagai shooter terbaik di sekolahku dan selalu terpilih
sebagai tim inti di tiap pertandingan antar sekolah.
“Nih
tissue” aku menoleh kearah datangnya suara. Cowok itu begitu saja meletakkan
sebungkus tissue di pangkuanku dan berlalu. “Siapa sih ” Mataku mengikuti
kepergian langkahnya. Tubuh tinggi dan langkah yang santai sempat menoleh
sekali dan nyengir kuda.”Aneh” gumanku
Esoknya
ditempat yang sama-lagi suara yang sama “ Nih tissue, Jika Allah mengujimu dengan
cobaan berat belajarlah menjadi kuat karena Allah ingin menaikkan level
kesabaranmu untuk menuju manusia yang lebih kuat” Aku mengangkat wajahku,
kudapati wajah cowok itu dengan ekspresi datar. “Jangan sok merasa tau apa yang
aku rasa, kamu saat ini tidak berada di atas kursi roda berhentilah untuk
membuatku merasa lebih baik karena aku takkan lebih baik lagi dari ini” jawabku
ketus. Ketika kutatap matanya degub jantung berdebar keras. Ah mata itu.
Cowok
itu berkata “Aku tak pernah mencoba membuatmu lebih baik aku hanya ingin
membuat orang lain tersenyum tanpa harus ditarik pipinya kesamping. Keira, aku
Kevin kelas XI Mipa 2” Hei dari mana ia tau namaku? kubertanya dalam hati
Kevin
selalu hadir dengan kata-kata motivasinya yang awalnya membuat perutku mual.
Lama kelamaan kala sosoknya tidak hadir di sudut lapangan mataku mencari-cari.
Kemana si Mr. Sok tau itu?
"Nyariin
aku yah?” Tiba-tiba suara yang sangat kukenal itu ada persis di belakangku dan
hampir membuat jantungku lepas. “GR, ngapain cari kamu aku lagi nyari Rani
katanya mau ke perpustakaan”. Aku berbohong untuk menutupi maluku. Mahluk aneh
itu selalu muncul tiba-tiba
“
Ke perpustakaan denganku aja yuk, si
Rani gak bakal datang deh” ajaknya. “Ok, tapi bantu aku ambilkan buku di rak
yang tinggi ya” jawabku . “ Siap boss” Aku mulai merasa nyaman dengan
keberadaaan sosok ini. Senyumnya, tatapannya, sok taunya dan gurauannya yang
seringkali membuatku mati kutu tak sanggup memberikan umpan balik. Kevin,
sehari tanpamu seperti sehari tanpa matahari, kelam.
Setengah jam aku di sudut lapangan. Mataku terlihat
menikmati permainan basket namun sebenarnya gelisah tak juga menemukan sosok
sok tau itu. Mengapa ada rasa aneh di hatiku saat tidak mampu menemukan dirinya
hari ini. Mataku mencari-cari berharap tiba-tiba ada tissue yang disodorkan
didepan wajahku. Namun hingga sore menjelang tak jua hadir dihadapanku. Aku kangen
Kevin. Ah aku memaki diriku sendiri. “Norak lo Kei!”
Akhirnya
Pulanglah aku dengan rasa tak karuan kemana kamu Kevin. Tuk, tiba-tiba mendarat
sebuah benda dipangkuan, pesawat kertas. Aku mencari asal lemparan pesawat
tersebut.Dibalik pohon beringin depan sekolah Kevin ngengir kuda dan berkata
“Itu pesawat yang akan membawa mimpimu terbang setinggi-tingginya” . Hahahaha
aku tertawa begitu bahagia melihat wajah yang muncul dibalik pohon beringin yang
harusnya menyeramkan tapi saat ini pohon beringin terlihat sangat indah sekali. “Aku tadi ketiduran di
kelas, tidak ada satu orangpun membangunkan, kamu nungguin aku ya?” kali ini
aku tidak lagi membantah.”Ya, aku menunggumu” Kevin tersenyum kegirangan
“Akhirnya ada bidadari kangen” “Auto GR ah, males” jawabku. “Baca tulisan di
pesawatnya Kei”. “Ada tulisannya?” tanyaku. “Buka aja” jawab Kevin.”Miracles
happen, Anything is possible Never say never”. “Thanks Kevin.”aku tersenyum
bahagia.
Tugas merangkum sejarah banyak sekali malam ini aku
mengurung diri dikamar mengerjakan tumpukan tugas-tugas sekolah selain sejarah,
mengerjakan tugas sosiologi . Tiba-tiba
hp berbunyi chat line masuk.
“ Kei lagi apa”
“Kerjain tugas Vin”
“Besok aku gak sekolah,
ada acara keluarga 3 hari ke Yogya, jangan kangen ya”
‘Yeee…btw lama amet 3
hari?”
“ Nah tuh dah kangen
belum apa-apa”
“Gaaa..GR lo”
“Hahahahah…take care ya
Kei..
Hari ini terasa beda tak ada keisengan Kevin.Gurauan
Rani, Sisca, Refi tidak mampu membuatku tersenyum.”Kei, kamu sakit?” Tanya
Rani. “Gak Ran, lagi ga mood ajah” jawabku.
“Hmmm pasti karena
Mr.Sotoy ga ada ya?” ledek Sisca. “ Ih apaan sih?” jawabku tersipu. Refi
tertawa menggoda “ Mr.Sotoy telah menaklukan hati tuan putri Keira” “Ah kalian….”
Tugas Matematika dan Inggris terbuka di meja
belajar.Sebenarnya tubuh sangat lelah dengan aktifitas belajar seharian, tetapi
semua tugas harus dikumpulkan besok.Tiba-tiba HP bergetar “ Kevin” gumanku. Ah
ternyata bukan, Sisca menanyakan soal no 3.
“Apa kabar Kevin ya .
Chat ga ya? Chat..ga..chat..ga..chat ga…chat..ah chat aja” gumanku
“Kevin lagi apa?”
sekian menit kutunggu jawaban.yaah ga dijawab.Hatiku gundah, kenapa Kevin tidak
menjawab ya? Moodku mendadak drop.Kututup buku dan perlahan ku berpindah dari
kursi rodaku ke ranjang. “Kevin kamu sedang apa?”
Syukurlah hari ini aman aku tidak menyelesaikan tugas
Matematika, Pak Rusdi tidak mengajar hari ini karena harus mengikuti seminar di
Jakarta. Aku bersama tiga sahabatkpergi
ke kantin dan seperti biasa aku membeli tahu pedas favoritku dan juice
jambu tanpa gula.Bu Siti ibu pemilik kantin menyapa dengan ramah. “ Neng Keira
tahunya dua ya”? “ Satu aja bu, saya lagi kenyang” jawabku karena mengingat
tahu yang biasa kubeli adalah untuk Kevin yang juga penggemar tahu pedas. Dan minuman
favoritnya juice jeruk.
Lima hari tanpa kabar dari Kevin membuatku benar-benar galau. Kuberanikan diri untuk
menanyakan pada Aldo sahabat Kevin. “Do, temenmu sudah masuk sekolah belum?”
tanyaku. “Siapa? Kevin?” jawabnya. Iya jawabku lagi. “ Belum, betah kali dia
disana ketemu cewek temen masa kecilnya.”jawab Aldo” Siapa Do?” Aku berusaha
menahan diri untuk tidak terlihat cemburu. “Farah, kata Kevin ia memiliki
sahabat kecil bernama Farah yang akan menemuinya disana,coba aja kerumahnya
kali aja sudah pulang” Akhirnya aku mendapatka,n
alamat Kevin dari Aldo. dengan sejuta perasaaan campur aduk tak karuan
“Pak Amir, antarkan saya ke Jl. Balikpapan no 18 ya” “
Baik Non” jawab supirku. Dengan rasa kesal karena tidak ada kabar dari Kevin
aku memberanikan diri mencari rumahnya. Perjalanan sekitar 20 menit akhirnya
memasuki jalan Balikpapan. Mobil berhenti pada sebuah rumah putih berpagar
tinggi. “ Benar pak ini no 18?” tanyaku. “ Iya Non” jawab pak Amir. “ Bantu
saya turun ya pak” pintaku.
Aku meminta pak Amir memencet bel rumah. Keluarlah
sekuriti yang menjaga rumah tersebut. “Ya mbak mau bertemu dngan siapa?” “
Siang pak, Kevin ada?” tanyaku. “ Oh mas Kevin belum pulang ada yang mau
disampaikan?” tanyanya. “Ga ada pak, terima kasih saya pulang saja. Tolong
bilang saja Keira kesini”
“Nih tissue” suara yang kukenal.Aku hanya diam,Hatiku
kecewa sosok ini telah membuat hatiku gundah gulana selama 5 hari. “Kei, apa
khabar?” Aku menatapnya. Kevin dengan potongan rambut yang rapi namun tetap
dengan senyum jahilnya yang membuatku susah untuk mendiamkan lebih lama. “ Baik
vin, kamu gimana? Mengapa tidak ada khabar?” aku langsung memberondongnya
dengan pertanyaan. Kevin tersenyum “ Maaf Kei, hpku hilang, aku kehilangan
semua kontak sehingga tidak bisa menghubungi kamu” . “Oalah pantes, kupikir
kamu melupakan …eh maksudku kupikir kamu kenapa gitu sampai gak bisa
menghubungiku” buru-buru meralat ucapanku. Ih ke GR an nanti dia tau aku begitu
merindukannya 5 hari ini.
Perlahan aku sudah mulai dapat menerima kenyataan kakiku
yang sudah tak mampu berjalan.
Toh Kevin bilang untuk
menjadi bintang tidak harus memiliki kaki, masih ada otak, tangan , hati, segala
yang kita punya. Dan tetaplah menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.Hidup
harus terus berjalan Aku harus semangat.Aku akan mampu menjalani hidup walau diatas kursi
roda.
Malam ini kudengar lagu Hingga Napas ini Habis Fiersa
Besari.Ku teeringat seseorang dengan senyum usilnya, Lima kotak tissue yang
masih kusimpan, pesawat kertas yang kerap kau lemparkan padaku dan terkadang
menclok diatas kepalaku bahkan menabrak hidungku.
Tetaplah disini jangan pernah pergi, meski
hidup berat kau memiliku.
Ketika kau sakit, ketika hatimu terluka, ku kan menjagamu hingga
nafas ini habis.
“Ah Kevin, mengapa
wajah sotoy mu ada dimana-mana? Sedang apa kamu sekarang?”
Hp bergetar, masuk chat Line dari ..mmh KEVIN!
“Hai Keira , lagi
memikirkan aku ya?”
“GR…gaaak lagi belajar”
“Keira maaf aku besok
ga sekolah, mendadak harus pergi mengatar mamaku berobat ke Singapore”
“Mama sakit Kevin?”
“Ya Kei
“Berapa lama?”
“Belum tau Kei nanti
kukabari ya”
Ada rasa sedih
melintas. Ah aku besok tak dapat melihat senyum usilmu. Aku tak menerima
pesawat kertas dengan motivasi-motivasi sok tau kamu”
Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, tak kunjung
akud apatkan khabar dari Kevin. “ Kamu bohong Kevin, kamu bilang akan hubungi
aku” Air mataku menetes sedih. “ Kamu melupakan aku Kevin, pasti karena Farah. Ya
Farah pasti jauh lebih sempurna dari aku. Apalah aku, hanya gadis lumpuh dengan
kursi roda. Dadaku sesak. “Kevin tega banget kamu ma aku” Kutumpahkan semua air
mata di bantal kamarku.
Memasuki lobby rumah sakit sudah menjadi kunjungan rutin
bagiku. Tiap 2 minggu sekali aku terapi belajar jalan walau melelahkan aku
terus berusaha semangat.Dokter bilang aku masih dapat berkesempatan berjalan
kembali dengan terapi teratur.
Ini
sudah hari ke 8 Kevin tidak dapat kuhubungi.Sekelebat kulihat pria berjalan eh
itu Kevin.Ah aku mulai gila halusinasi. Mataku melihat berkeliling ada sesosok
pria duduk disudut ruang tunggu dengan topi.Ah itu Kevin! Sampai ku
picing-picingkan mata.Ah bukan benar-benar sudah gila aku.Aku di sudut ruang
tunggu menanti antrian therapy bersama bunda ditemani tahu pedas kesukaanku. “Ah
andai kamu ada Kevin, ini satu untukmu” .
“Kei, nih tissue” suara yang sungguh kurindu. “KEVIIIIN”
meledak tangisku. Kevin tersenyum seperti biasa dan berkata “Maafkan aku ya Kei”
sebelum aku sempat nyerocos marah-marah jarinya diletakkan di bibirku. “Ikut
aku yuk. Aku ingin mengajak kamu ke tempat favoritku”. Bagai terhipnotis aku
menurut dan membiarkan Kevin mendorong kursi roda menuju mobilnya dan
membantuku duduk di sebalahnya.
Mobil memasuki sebuah halaman bangurnan tua yang luas
namun asri. Ku baca tulisan Panti Asuhan Kasih Ibu.Aku memandang Kevin dengan
perasaan bergejolak. Kevin menatapku dan berkata masuk yuk kukenalkan dengan
adik-adik disini.Dadaku sesak melihat Kevin dengan santunnya mencium tangan ibu
panti dan menyapa anak-anak panti disana yang sepertinya sudah sangat mengenal
Kevin.
“Hai Adik-adik cakep, kakak perkenalkan ini sahabat kakak
namanya Kakak Keira. Kakak Keira ini pandai menggambar, bermain musik dan
bermain basket”. “Tenggorokanku tercekat oleh haru, kulihat ada anak yang tak
memiliki tangan kiri melambai kearahku. “Hallo Kakak”. Kevin tahu aku begitu
sulit untuk berbicara sehingga mengajak anak-anak bernyanyi bersama.Aku turut
bahagia bersama adik-adik yang manis ini. Terselip rasa di hatiku bersyukur setidaknya
aku masih memiliki dua orang tua yang sangat menyayangiku. Tak terasa air mata
menetes di pipi.
“Nih Tissue , hadeuh sepertinya aku harus membeli satu
bal tissue untuk kamu” canda Kevin. Aku tertawa. “ Hahaha..ah Kevin” aku tak
mampu bicara apa-apa selain rasa yang makin kuat bersemayam dalam hati.
Ah kamu menghilang lagi Kevin. Kali ini tanpa
pemberitahuan. Makin kuyakini Ia pasti sedang menemui gadis yang bernama Farah
itu. Seperti apa sih Farah sampai membuatmu lupa segalanya. Kamu janji
menemaniku diperpustakaan hari ini.Aku kembali flash back kejadian. Ah aku
terlalu GR. Kevin tak pernah sekalipun ungkapkan perasaannya kepadaku.Dan Aldo
bilang ada gadis bernama Farah yang kerap kali bersamanya.Sedih, berkecamuk, Ya
Allah andai Kevin tidak menyukaiku seharusnya jangan biarkan aku merasakan ini.
Sunguh sangat menyiksa.
“Key..” Kali ini suara yang bukan biasanya aku kenal, aku
menengok. “Eh Aldo kenapa Do? Lihat Kevin?” Aldo bilang ikut yuk Kevin ingin
bertemu denganmu sekarang.Berdebar hatiku wuuiih kayaknya Kevin mau sok romantic-romantis
kayak di TV nih mau nembak cewek dengan GR aku sedikit berbunga.
Aku menaiki mobil Aldo menuju rumah Kevin, Ya rumah
Kevin. Aku mengenali jalannya karena pernah melaluinya. Mobil Aldo langsung
disuruh masuk oleh sekuriti karena sepertinya sudah sangat mengenal
Perlahan aku memasuki rumahnya agak sulit menaiki undakan
tangga menuju teras rumahnya dibantu Aldo dan sekuritti. Mamanya yang cantik
menyambutku dan dengan hormat aku cium tangannya. “Siang tante, apa khabar?” Mamanya
dengan ramah menjawab “Baik nak, langsung aja Do diajak ke tempat Kevin Keira”
jawab ibunya
Berdebar aku ingin menemui Kevin, surprise apa lagi yang
diberikannya.Ketika pintu kamar terbuka aku terpaku menatap Kevin terbaring di
kamarnya dengan wajah sangat pucat.Bergegas aku jalankan kursi roda mendekati
tempat tidurnya.
“Kevin, kamu kenapa? Kenapa gak kabari aku?” Kevin hanya
tersenyum. Mamanya menjelaskan Kevin terkena Leukima Kei. Ini sudah Kemoterapi
yang ke 3.Aku benar-benar merasa runtuh. Ya Allah Kevin yang begitu tegar
memotivasi aku, Kevin yang begitu sabar aku bentak-bentak , Kevin yang begtu
welas asih mengajar anak-anak panti asuha ternyata seorang pejuang kanker.
Pantesan terakhir ini Kevin lebih sering memakai topinya, terkadang ikat
kepala. Karena Kevin didepan mataku adalah Kevin yang sudah tidak memiliki
rambut.Air mataku bercucuran. “Kevin, kenapa kamu ga pernah cerita? Jadi
kemarin kamu yang ke Yogya? Ke Singapura itu kamu kemana?
“Kevin di rumh sakit
Kei, maaf Kei aku diminta merahasiakan dari kamu” jawab Aldo.
“Ini Kevin harus ke RS
lagi Kei karena kondisinya menurun” Kevin hanya diam memandang Keira dengan
senyuman. Aku tahu Kevin menahan kesakitan tapi ia tetap tersenyum
untukku.Maafkan aku Kevin yang sudah menuduhmu buruk.
Memandang Kevin dari luar ruang isolasi. Sebelum ke rumah
sakit.aku buatkan tulisan di pesawat kertas unuk Kevin .”Miracles happen,
Anything is possible Never say never” Kulihat Kevin menggenggam pesawat itu.
Mama Kevin memberikan satu kotak untukku yang kata beliau
dari Kevin.Ketika kubuka pesawat-pesawat kertas yang isinya quote penyemangat
untukku. Salah satu yang menarik perhatianku pesawat warna biru (warna kesukaan
Kevin). Aku buka dan meledaklah tangisku
Walau
aku pergi, sebenarnya aku tidak benar-benar pergi. Aku ada di biasan mentari
pagi yang
menyentuh wajahmu
Aku ada di jingga senja yang menyapa
soremu
Aku ada di gemintang malam yang menerangi gelap
malammu
Aku berjanji akan selalu ada untukmu Kei..
Aku yang mencintaimu
Kevin
Tersedu aku dalam pelukan mama Kevin, kami dua perempuan
yang sama-sama mencintai pemuda baik ini. Ya Allah sembuhkanlah Kevin jangan
biarkan aku sendirian.
Minggu pagi cerah. Aku dapat merasakan kehangatanmu
melalui mentari yang menyentuh wajahku. Saat ini aku sudah dapat berjalan walau
masih dibantu tongkat.Aku bawakan bunga untukmu kevin.dan pesawat kertas berisi
puisi untukmu
Ketika malam terlalu kelam untuk
menggantungkan harapan
Aku masih percaya kepada pagi
“ Baik baik kamu disana
ya Kevin, Kamu sudah tidak sakit lagi. Kamu selalu ada untukku seperti janjimu
selama mentari masih bersinar di pagi hari, bintang masih berkelip dimalam
hari, disitu kau ada . I love u Kevin”
Comments
Post a Comment